Lapas Pemuda Madiun Terima Monev Staf
Khusus Bidang Penguatan SDM dan Transformasi Organisasi Kemenimipas
Madiun, – LINTASINFORMASI.com
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda
Kelas IIA Madiun menerima kunjungan Monitoring dan Evaluasi (Monev) dari Staf
Khusus Bidang Penguatan SDM dan Transformasi Organisasi Kementerian Imigrasi
dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Y. Ambeg Paramartha, Kamis (22/10). Kegiatan
ini dilaksanakan untuk melihat secara langsung pelaksanaan pelayanan publik,
program pembinaan, serta penerapan sistem pengamanan di lingkungan Lapas.
Kunjungan diterima langsung oleh Kepala Lapas Pemuda Madiun, Rudi Kristiawan,
beserta jajaran. Turut hadir Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pemasyarakatan Jawa Timur, Kusnali, bersama jajaran Lapas Kelas I Madiun.
Kegiatan diawali dengan peninjauan
Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang berada di area brandgang Lapas Pemuda
Madiun. Dalam kesempatan tersebut, rombongan melihat secara langsung berbagai
kegiatan produktif, mulai dari peternakan ayam petelur yang saat ini berjumlah
1.020 ekor, budidaya ikan lele dengan sistem bioflok, hingga peternakan
kambing. Berbagai sektor tersebut menjadi bagian dari program pembinaan
kemandirian Warga Binaan sekaligus mendukung upaya ketahanan pangan di
lingkungan pemasyarakatan.
Kepala Lapas Pemuda Madiun, Rudi
Kristiawan, menjelaskan bahwa pengelolaan peternakan ayam petelur menjadi salah
satu program unggulan yang terus dikembangkan. Dengan jumlah mencapai 1.020
ekor, produksi telur setiap hari memberikan kontribusi nyata dalam mendukung
pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi produktif
di Lapas.
“Saat ini, Lapas Pemuda Madiun
memiliki 1.020 ekor ayam petelur yang setiap harinya menghasilkan telur. Kami
terus mengoptimalkan pengelolaan peternakan ini sebagai bagian dari dukungan
terhadap swasembada pangan. Selain menghasilkan produk yang bermanfaat,
kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi Warga Binaan untuk
memperoleh keterampilan di bidang peternakan sebagai bekal ketika kembali ke
masyarakat,” ujar Rudi.
Peninjauan kemudian dilanjutkan ke
Sendang Klangenan, sarana rekreasi Warga Binaan yang dilengkapi fasilitas
hiburan berupa biliar, PlayStation, dan karaoke. Seluruh Warga Binaan dapat
mengakses fasilitas tersebut secara gratis sebagai bagian dari pemenuhan
kebutuhan rekreasi selama menjalani masa pembinaan. Keberadaan fasilitas ini
juga mencerminkan upaya Lapas dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang
humanis tanpa mengesampingkan aspek keamanan dan ketertiban.
Selanjutnya, rombongan meninjau blok
hunian untuk melihat secara langsung kondisi kamar serta penerapan sistem
pengamanan. Lapas Pemuda Madiun menerapkan pengelompokan hunian berdasarkan
tingkat pengamanan, yakni maximum security, medium security, dan minimum
security. Penempatan Warga Binaan pada masing-masing tingkat dilakukan dengan
mempertimbangkan hasil asesmen sebagai dasar penyesuaian tingkat pengamanan dan
kebutuhan pembinaan.
Rangkaian kunjungan diakhiri dengan
peninjauan Aula Adi Sujatno, tempat sejumlah Warga Binaan tengah menikmati
kegiatan menonton film bersama. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk
rekreasi yang disediakan untuk memberikan ruang hiburan bagi Warga Binaan di
sela-sela aktivitas pembinaan.
Staf Khusus Bidang Penguatan SDM dan
Transformasi Organisasi, Y. Ambeg Paramartha, menyampaikan bahwa secara umum
pelaksanaan pelayanan di Lapas Pemuda Madiun telah berjalan dengan baik. Proses
pemasyarakatan dilaksanakan sesuai tahapan yang berlaku, sementara penerapan
tingkat pengamanan telah disesuaikan dengan pemberian layanan kepada Warga
Binaan.
“Secara umum, pelayanan di Lapas
Pemuda Madiun berjalan dengan baik. Proses pemasyarakatan telah dilaksanakan
sesuai dengan tahapan yang ditetapkan. Penerapan tingkat pengamanan yang
dikaitkan dengan pemberian layanan juga sudah berjalan dengan baik, sehingga
aspek keamanan dan pemenuhan hak Warga Binaan dapat dilaksanakan secara
beriringan,” ungkap Ambeg.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan hasil
peninjauan, tidak ditemukan perbedaan mendasar pada fasilitas kamar hunian
antara satu kamar dan kamar lainnya. Perbedaan yang diterapkan lebih berfokus
pada tingkat pengamanan berdasarkan hasil asesmen terhadap masing-masing Warga
Binaan.
“Khusus fasilitas kamar, kami tidak
menemukan perbedaan mendasar antara kamar yang satu dengan kamar yang lain. Hal
yang membedakan adalah tingkat pengamanan yang ditentukan berdasarkan hasil
asesmen Warga Binaan. Dengan demikian, penempatan dan pola pengamanan dapat
disesuaikan dengan hasil penilaian serta kebutuhan masing-masing individu,”
tambah Ambeg.
Sementara itu, Kepala Lapas Pemuda
Madiun, Rudi Kristiawan, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi
ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali pelaksanaan pelayanan dan
pembinaan sekaligus mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan pemasyarakatan.
“Melalui kegiatan ini, kami
berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, mengoptimalkan
program pembinaan kemandirian, serta memastikan penerapan sistem pengamanan
berjalan sesuai ketentuan. Kami juga menjadikan masukan dan hasil evaluasi
sebagai bahan perbaikan agar pelayanan kepada Warga Binaan semakin optimal,
profesional, dan humanis,” tegas Rudi.
Melalui kegiatan monitoring dan
evaluasi ini, Lapas Pemuda Madiun terus berkomitmen meningkatkan kualitas tata
kelola pelayanan publik, mengoptimalkan program pembinaan kemandirian, serta
memastikan penerapan sistem pengamanan berjalan sesuai ketentuan. Evaluasi ini
diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mewujudkan
penyelenggaraan pemasyarakatan yang profesional, akuntabel, dan humanis.
